Seorang Kurir dan Keadaan Lalu Lintas

Belakangan ini, saya melihat lalu lintas di Solo semakin kacau. Saya tahu karena pekerjaan saya adalah kurir. Ya, seorang kurir! Kurir online shop sang istri yang kerjaannya tiap hari ambil barang, kirim barang, ambil barang, kirim barang, sampai 541 tahun kemudian.

Back to topic. Kekacauan ini menyebabkan banyak kecelakaan – kecelakaan kecil yang terjadi. Motor menabrak motor. Mobil disrempet motor. Anjing naik motor nabrak kucing naik Ferrari. (Yes, i know style nulis gue lama – lama jadi kaya Raditya Dika karena gue ngabisin 4 buku dia dalam 2 hari ini. So what, gue suka dia, dan gue bukan GAY!)

Menurut analisis saya (sambil kepala muter – muter ngikutin Sentilan Sentilun tiap hari Senin jam 21.30 di salah satu stasiun TV), kekacauan tersebut disebabkan karena Indonesia semakin maju. Sektor ekonomi berkembang pesat, sehingga semakin membuat penduduknya berpikir “time is money”. Jadi, dalam keadaan apapun, mereka harus cepat – cepat, termasuk dalam mengemudikan kendaraan bermotor. Namun, kecepatan tersebut tidak sebanding dengan Skill mereka.

Bayangkan, gue hampir ditabrak motor yang lewat perempatan dalam kecepatan 60 km / jam. Sungguh luar binasa!…luar biasa maksud jayus saya.

Sering kali bokap gue bilang, “Wong kok ra nduwe dugo kiro” (orang kok tidak punya perhitungan).

Gue tidak menyalahkan kalau mereka berpikir time is money. Tetapi, bayangkan kalau anda kecelakaan, Money dan Time anda akan melayang di rumah sakit mas, mbak, mbah.

Well, beberapa kejadian (yang menurut gue konyol) yang pernah gue dapati:

– Di perempatan tanpa lampu merah, ada bapak – bapak ngebut tanpa nge-rem, lalu akhirnya nabrak mbak – mbak, lalu mereka jatuh cinta dan kawin siri.

– Tas anak sekolah jatuh waktu mereka diboncengin ibunya, lalu bapak – bapak naik vespa melindas tas sang anak, lalu bapak – bapak tersebut minum es teh… (maksudnya minggir dulu, terus untuk menenangkan diri beliau minum es teh di warung pinggir jalan).

– Di jalan Slamet Riyadi, jalan paling besar di Solo, ada rel kereta api yang jadi satu sama jalan raya (yang notabene se-Indonesia Raya cuma ada di kota Solo). Waktu hujan, banyak sekali orang terpeleset waktu melewati rel kereta tersebut. Biasanya waktu mau belok di perempatan yang mengharuskan kita melewati rel tersebut. Yang bisa gue sampein cuma “awas ada rel mas…”.

Mungkin batin si mas – mas itu, “Asu, wes ngerti CUK!” (Sudah tau, dik Devara yang ganteng)

Pesan moral dari postingan gue kali ini adalah: perhatikan dan taati peraturan lalu lintas yang pernah anda pelajari waktu sekolah dan waktu ambil SIM.

Kecuali anda bayar calo untuk bikin SIM anda…yang saya pun juga melakukannya.

Terima Kasih

Devara Priya

Di depan tulisan ‘For Evangeline, Ganbatte!’, 29 November 2010.

About Dave

Tukang Pijat Keyboard

Posted on November 29, 2010, in Cerita Devara. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. dah kena virus raditya dika 100% ni.. tapi situ bisa baca novelnya radik drmana coba? dari saya! dari SAYA! oke aku lebay (emo) hahahahahha
    sipp lah
    keep posting
    trs ntar dibukukan😀 wahhaha (NGIMPI!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: