Tips Menulis: Showing VS Telling

Akhirnya, gue punya akun twitter. Halah halah. Twitter sudah berdiri sejak tahun sebelum Masehi, gue baru punya sekarang. Setelah berabad – abad kemudian. Hahaha.

Kok tiba – tiba pingin buat akun twitter? (yang sebetulnya alesan gue ga penting banget buat dibaca)

Well, sebenarnya gue ingin lebih deket aja sama ‘guru menulis’ gue, Raditya Dika. Walaupun dia ga tau siapa gue. Sad.

Di blog nya, Radith jarang banget update. Jadi, demi mendekati dan menghisap seluruh sari – sari kehidupannya, ehm.., ilmunya maksudnya. Jadilah gue bikin akun twitter.

Anyway, baru kemarin gue buat akun twitter, hari ini gue uda dapet ilmu lagi dari beliau, sang guru sekaligus mahasiswa abadi, Raditya Dika.

Salah satu teknik penting dalam menulis adalah “showing vs telling”. Apakah itu?

Showing = memperlihatkan. Telling = memberitahu. Penulis yg baik akan sering memakai showing daripada telling. Contohnya..

Seorang penulis yg menulis “Tono sedang ketakutan” berarti memberitahu (telling) pembaca bahwa Tono takut, nah kalo showing..

Penulis tersebut akan menulis: “Tono menyilangkan tangannya, dia menelan ludah, bulu kuduknya tidak bisa berdiri semalaman.”

Kedua kalimat tadi sama2 membuat kita jadi tahu bahwa Tono takut. Tapi yang satu showing, yang satu lagi telling..

Nah, lebih baik kita menunjukkan Tono takut dgn cara showing, daripada telling. Kenapa?

Showing membuat pembaca punya gambaran visual tentang Tono takut, ini akan membuat cerita kamu lebih hidup di kepala pembaca..

Dengan menggunakan showing, efeknya akan lebih kuat, cerita lebih terasa. Kita seolah2 bisa “melihat” Tono takut..

Menggunakan showing juga membuat pembaca akan engaged dan berpikir. Jadi pembaca terlibat dalam tulisan kamu..

Showing juga lebih meyakinkan kepada pembaca bahwa Tono memang takut, daripada kita telling begitu saja..

Boleh gak kita menggunakan telling daripada showing? Boleh.. Tapi kapan?

Pakailah telling ketika:

1) hal tersebut tidak terlalu penting (Tono lupa mandi).

2) informasinya membosankan (Tono sarapan).

3) jika informasi itu lebih gampang di-telling (seperti memberitahu Tono dari Jakarta, daripada showing Tono dari Jakarta).

Sekian tentang showing vs telling. Coba aja di tulisan kamu.🙂

Tulisan di atas gue ambil dari 14 tweet-nya Raditya Dika. Sebetulnya kalau dilihat secara sekilas, nomernya ada 13 doang, tapi yang tweet 5 ada dobel tapi isinya beda. Ga penting ah. Lebih penting ambil ilmunya.

Well, enjoy!😀

Jangan lupa follow twitter gue di @devarapriya ya🙂

Terima Kasih

Devara Priya

Di depan tulisan ‘For Evangeline, Ganbatte!’, 26 Desember 2010.

About Dave

Tukang Pijat Keyboard

Posted on December 26, 2010, in Articles and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: