Tips Menulis: Metode Delapan Sequence

Siapa sih yang enggak kenal Raditya Dika? Penulis sekaligus pemain film Kambing Jantan ini makin ngetop aja. Beruntung banget alumni Coaching Cerpen kaWanku 2008 pernah diajari cowok yang dulunya berkacamata (sekarang udah enggak ding gara2 Lasix ya Dit? hehehe) ini.

Dan beruntungnya kalian para anggota fanpage kaWanku karena W akan share artikel tips menulis dari Raditya Dika. Kali ini Radit membahas tentang pembuatan plot dalam sebuah cerpen.

Silakan dibaca, diresapi dan dinikmati!

Plot Feminim dalam Penulisan Kreatif dengan Metode Delapan Sequence Raditya Dika

Apa itu plot? Pada dasarnya plotting adalah yang membuat cerita berjalan maju. Plotting adalah tempat kita memasukkan karakter-karakter yang telah kita rumuskan dan membuatnya hidup. Membuatnya punya cerita dan punya purpose dalam cerita tersebut.

Plotting, dalam penulisan sebuah cerita, tentu saja bagian yang sama krusialnya dengan karakterisasi, terutama dengan cerita-cerita yang sangat plot-driven, atau yang didorong dengan plot, seperti cerita dengan genre misteri, spionase, dan lain-lain.

Sebuah cerita yang tidak diplot terlebih dahulu cenderung akan mandek dalam proses penulisan, membuat sang penulis memijit-mijit kepala dan berteriak, ‘Selanjutnya apa ya?’ Hal ini akan menjadi buruk jika sang penulis telah menulis novelnya sepanjang 80 halaman, dan baru sadar di halaman 80 kalau dia salah mengeset plot dari awal… sehingga harus menulis ulang semuanya kembali.

Hal-hal semacam ini bisa dihindari dengan konstruksi plot yang baik sebelum cerita mulai ditulis.

I. Maskulin dan Feminim

Pada dasarnya, plot di dalam sebuah karya fiksi ada dua jenis. Plot yang bersifat maskulin dan plot yang feminim. Plot yang maskulin, bukan berarti tokoh utamanya pria, tapi berarti jalan ceritanya lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal. Ini bisa kita lihat dari cerita seperti Indiana Jones, King Kong, dan (pada umumnya) cerita-cerita adventure lainnya.

Sedangkan, plot yang bersifat feminim adalah plot yang bercerita tentang karakter. Biasanya, karakter-karakter yang menyetir jalan cerita, lebih banyak faktor internal yang berperan: pilihan karakter tersebut atas hidupnya, hubungan karakter tersebut dengan karakter lain, dsb. Biasanya pula, di akhir cerita akan ada perubahan sifat dari karakter-karakter ini.

Misalnya: Jomblo, Bridget Jones Diary, Juno, dan lainnya.

Kali ini kita akan membahas plot feminim, karena plot seperti ini yang lazim ditemukan dalam dunia fiksi Indonesia. Plot seperti ini pula yang juga susah diterapkan dalam dunia penulisan. Hali ini disebabkan karena plot feminim harus memerhatikan plotting dengan sangat hati-hati, jauh lebih hati-hati dibandingkan plot maskulin. Bayangkan jika salah satu cerita plot maskulin, Rambo misalnya, ditulis dalam bentuk novel, isinya mungkin hanya berupa orang teriak-teriak dan mati kena bom. Ini jelas berbeda dengan plot feminim, di mana salah penceritaan sedikit saja akan terlihat sebagai kesalahan yang fatal.

Dalam dunia penceritaan modern, ada juga plot hybrid seperti Spiderman, di mana ada elemen plot feminim (struggle dalam diri sang Spidey) dan juga elemen plot maskulin (berantem-beranteman dengan si penjahat).

Untuk kepentingan pelatihan penulisan kali ini, saya akan membahas cara membuat plot feminim dengan menggunakan metode 8 sequence, yang dikembangkan dari skema plot Aristoteles.

II. Sequence

Setiap cerita, jika ingin dibedah lebih dalam adalah pergulatan antara wants dengan needs. Antara sesuatu yang orang inginkan dibandingkan dengan apa yang orang butuhkan. Misal: tentang orang yang ingin jadi presiden hingga mengorbankan keluarganya, namun di akhir cerita dia sadar bahwa apa yang dia butuhkan sebenarnya adalah keluarganya.

Pergulatan antara wants dengan needs membuat sebuah cerita mempunyai premis (siap berjalan), dan ketika semua sudah siap, kita hanya butuh kendaraan untuk bercerita tentang pergulatan wants dengan needs karakter yang kita tulis. Maka, di sinilah pentingnya plotting.

Menurut Aristoteles, setiap cerita mempunyai skema plot paling sederhana seperti ini:

SETUP -> KLIMAKS -> KONKLUSI

Sekali lagi, ini adalah konstruksi cerita yang paling sederhana. Contohnya mungkin bisa diambil cerita si kancil. Si kancil mencuri ketimun (setup) lalu dia ditangkap Pak Tani (klimaks), dan dengan kecerdikannya dia bisa kabur dari kurungan (konklusi).

Di dalam dunia modern ini, khususnya dalam dunia sinematografi, perkembangan plot ini dibagi lagi menjadi delapan sequence.

Menjadi seperti ini:

Metode Delapan Sequence dengan Contoh Kasus Jomblo

SETUP

Seq. 1: Dunia Sempurna yang Semu

Karakter dalam cerita hidup di dunia sempurna yang “semu”, mereka merasa semua yang ada di dalam kehidupan mereka sempurna tapi masih ada yang kurang, sesuatu yang membuatnya menjadi semu, tidak nyata.

Misalnya: dalam Jomblo, keempat karakternya hidup dalam dunia yang sempurna yang semu, kehidupan mereka belum sempurna karena menurut mereka, mereka belum ada yang punya pacar.

Seq. 2: Penyadaran

Karakter dalam cerita yang kita bikin telah awake, atau sadar bahwa ada yang kurang dalam kehidupan mereka. Biasanya, dalam cerita, penyadaran mereka timbul karena suatu faktor (ketemu orang lain, kejadian eksternal, dan lain-lain).

Misal: dalam Jomblo, masing-masing karakternya sadar atas tujuan cerita mereka (butuh pacar) ketika Agus Ringgo ketemu dengan teman lamanya, Rizky Hanggono ketemu dengan seorang gadis cantik yang menyebrang jalan. Pada point ini mereka tersadar.

Seq. 3: Persiapan Perjalanan

Pada sequence ini, karakter kita bersiap-siap untuk melakukan “perjalanan” atau usaha setelah mereka tersadar atas suatu hal. Dalam bagian kali ini, karakter kita akan berusaha sekuat tenaga.

Misal: dalam Jomblo, Agus Ringgo melakukan pendekatan dengan cewek incarannya itu. Rizky Hanggono berusaha setengah mati untuk tahu siapa cewek tersebut.

KLIMAKS

Seq. 4: Naik ke Atas

Masing-masing karakter telah hampir berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Para tokoh seolah-olah hampir berhasil, dan semuanya terlihat benar-benar bahagia. Namun, cerita juga mempersiapkan konflik untuk maju ke sequence berikutnya ke arah klimaks.

Misal: dalam Jomblo, Agus Ringgo telah pacaran dengan cewek yang dulu dia incar. Tapi, ada twist di saat Christian Sugiono ternyata menghamili cewek yang disukai oleh Rizky Hanggono. Agus Ringgo juga pada saat yang bersamaan kenalan dengan Nadia Saphira, membuatnya berselingkuh. Kedua point ini menjadi point yang berpotensi untuk membuat cerita menjadi klimaks.

Seq. 5: Mata Badai

Klimaks dari cerita. Dalam sequence ini biasanya cerita mengalami tensi yang paling tinggi. Tokoh-tokohnya ada dalam kesulitan yang amat sangat, semua problem yang terlihat biasa-biasa saja di awal cerita menjadi besar dan mengerucut menjadi sesuatu yang sangat parah pada sequence ini.

Misal: dalam Jomblo, ini adalah ketika Rizky Hanggono tahu hubungan Christian Sugiono dengan Rianti yang menyebabkan dia bertengkar dengan Christian. Persahabatan mereka retak. Agus Ringgo juga mengalami hubungan yang berantakan dengan pacarnya dan dia mengalami dilema yang parah dengan selingkuhannya.

Seq. 6: Kejatuhan

Semuanya hancur di sequence ini. Kehidupan karakter yang tadinya baik-baik saja, menjadi di titik terendah pada sequence ini. Ibaratnya sebuah badai, ini adalah yang tersisa dari badai tersebut, membuat porak-poranda kehidupan tokoh-tokoh yang dilibas.

Misal: dalam Jomblo, sequence ini ketika hubungan keempat anak Jomblo tersebut menjadi renggang. Rizky bermusuhan dengan Christian, membuat hubungan antara Ringgo dengan Dhenni Adhiswara juga menjadi canggung.

KONKLUSI

Seq. 7: Kebangkitan

Kehidupan dan semangat para karakter bangkit di sini. Di sinilah para karakter, yang tadinya sudah kalah dan compang-camping bisa bangkit kembali dan sadar kepada tujuan mereka semula. Di sini lah pay-off masing-masing karakter diterima.
Misal: dalam Jomblo, sequence ini terjadi ketika Ringgo memutuskan untuk memilih satu cewek, Christian memilih untuk komitmen dengan Rianti. Rizky Hanggono menyadari bahwa dia selama ini tidak berani ngedeketin cewek.

Seq. 8: Dunia yang Sempurna

Masing-masing karakter kembali ke dunia semula sebelum cerita di mulai, namun dengan satu catatan: mereka telah menemukan apa yang hilang dari hidup mereka. Mereka telah menghilangkan sesuatu yang “semu” dengan yang tidak semu.

Misal: dalam Jomblo, endingnya adalah dunia sempurna yang tidak semua. Masing-masing karakter telah mengerti arti cewek bagi mereka. Ringgo sekarang engga pusing-pusing lagi, Christian juga sudah tidak playboy, Rizky Hanggono juga tidak mempertanyakan masalah cewek.

Satu hal yang diperhatikan, cerita jomblo adalah pergulatan antara wants dengan needs masing-masing karakter. Wants-nya yaitu cewek sedangkan needs dari tokoh cerita Jomblo adalah persahabatan.

III. Menggunakan Sequence

Jadi, bagaimana menggunakan metode delapan sequence di atas? Salah satu hal yang paling penting adalah kegunaannya yang praktis untuk membagi halaman. Katakanlah kita ingin menulis novel sebanyak 100 halaman A4, maka setiap sequence kita menulis sebanyak 12.5 halaman. Hal ini bisa membuat cerita kita lebih kuat, plot terlihat lebih solid, dan jalan cerita yang mengalir lebih rapi.

Dalam penggunaan sequence di atas, harap diperhatikan juga dengan apa yang dinamakan plot point. Plot point adalah sesuatu yang membuat cerita menjadi maju dari satu sequence ke sequence berikutnya. Misalnya, dalam jomblo, untuk maju dari sequence 1 ke sequence 2, hanya perlu satu scene di mana Ringgo bertemu dengan teman lamanya. Pertemuan ini kita namakan dengan plot point.

Plot point bisa berupa scene, paragraf, atau bahkan percakapan. Bayangkan orang berkata, ‘Ma, aku hamil!’. Kalimat ini bisa menjadi sebuah plot point karena mengundang informasi yang bisa membuat plot menjadi maju ke depan.

Tentu saja, tidak semua cerita secara plek-plekan meniru template sequencing plot di atas, dalam kasus cerita flashback misalnya, beberapa sequence di atur penyajiannya sehingga terkesan alurnya mundur ke belakang.

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=86729783062

Ketemu lagi tips menulis dari Raditya Dika hehehe.

Gue sebetulnya sudah belajar tentang tips ini di masa sekolah. SMP kalo gak salah. Tetapi, dasar anak gak peduli sama pelajaran, gue lupa sama sekali, dan baru inget waktu baca artikel ini.

Dari artikel ini, gue belajar banyak. Jadi semangat nulis lagi.

Terima Kasih

Devara Priya

Di depan tulisan ‘For Evangeline, Ganbatte!’, 03 Maret 2011.

About Dave

Tukang Pijat Keyboard

Posted on March 3, 2011, in Articles and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. terima kasih atas tipsnya, gue googling tentang tips menulis, biar lebih pinter..post ini ga pernah gue tau sebelumnya..yang gue tau, nulis itu harus kayak puncak gunung, ada klimaksnya..hehe

    thanks anyway..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: