Welcome to the world, Joyuda Gracius Nathan

Tanggal 3 Juli 2011. Hari Minggu Pahing, anak pertama gue lahir. Namanya Joyuda Gracius Nathan.

Tanggal 2 Juli, hari Sabtu, Ria mulai merasakan kontraksi terjadi. Katanya, rasanya seperti waktu lagi mens. Gue dan Ria belum menuju ke rumah sakit, karena menurut dokter ada 3 gejala yang menandakan bahwa kita harus ke rumah sakit.

Pertama, jarak waktu kontraksi yang semakin dekat, hingga 5 menit sekali.

Kedua, pecahnya ketuban.

Ketiga, keluar flek darah.

Kalau mengalami salah satu dari tiga hal di atas, baru ke rumah sakit.

Nah, buat ngukur kontraksi, gue menggunakan handphone buat nulis waktu kontraksi. Sekitar jam 2 siang hari Sabtu itu, gue baru ke rumah sakit karena kontraksi sudah 5 menit sekali.

Sampe di rumah sakit, Ria langsung diperiksa oleh petugas. Dari hasil pemeriksaan, Ria ternyata sudah bukaan 2.

Kita masih menunggu di ruang bersalin. Ruang bersalin di rumah sakit Dr. Oen Solo Baru tergolong enak. Jadi kita menunggu dengan suasana yang mendukung, dan membuat suasana hati gak terlalu gemrungsung.

Bukaan demi bukaan berlangsung. Mulai dari bukaan 3, 4 dan 5.

Rasa sakit Ria mulai menghebat di bukaan 5. Dia sudah merasa mulai mules – mules kaya mau buang air besar. Tapi gak enaknya, dia gak boleh ngeden. Wujubileh, gue yang ngerasain belum tentu mampu. Gue salut atas perjuangan Ria. Tapi kesalutan gue gak berhenti sampe di situ saja.

Jam setengah sepuluh malem, bukaan Ria sudah mencapai bukaan tujuh. Rasa sakit yang dialami Ria mulai menghebat. Gue membayangkannya dengan perumpaan begini. Gue lagi mules berat mau BAB, udah di ujung pucuk lah. Tapi…gue gak boleh beol! Shit banget gak?

Begitu juga dengan Ria. Ria udah ngerasa pengen ngeden. Pengen melepaskan beban yang ada di tubuhnya. Hasrat yang sudah menggebu – gebu. Tapi gak boleh ngeden!

Kata susternya, kalo belom bukaan 10, gak boleh ngeden. Kalo nekat ngeden, nanti jalur keluarnya sang bayi jadi bengkak. Nah, kalo bengkak, jadi tambah susah keluar. Dan hal ini sangat berbahaya. Ekstremnya, kalo bayi gak bisa keluar bisa mengancam nyawa sang bayi atau sang ibu. Dan jalan keluar satu – satunya adalah operasi caesar.

Kalo operasi caesar, bisa bengkak biayanya, dan keuangan rumah tangga kita bisa goyang dombret. -___-

Gue yang melihat Ria semakin kesakitan jadi kalut. Gue pengen dokter kandungan kita hadir di situ. O ya, dokter kandungan gue Dr. Daniel Kartipin. Tapi sang dokter hadirnya nanti, waktu udah mau ngeden, atau dengan kata lain waktu bukaan 10.

Jam 11 malem, gue semakin kalut, tapi tetep pura – pura cool di depan Ria. Gue khawatir kalo gue menunjukkan sikap kalut, Ria jadi tambah beban hidupnya waktu itu. Jadilah gue sok cool. Tapi gak bertahan lama. Jam setengah 12, gue udah disuru keluar ruangan bersalin karena para suster mau mempersiapkan peralatan operasi.

Gue keluar ruangan, menuju ruang tunggu. Di situ ada orang tua dan mertua gue. Dan gue menangis sejadi – jadinya. Gue gak tega melihat Ria yang menahan kesakitan sedemikian rupa. Seolah Ria sedang meregang nyawa. Kalau misalnya orang lain, gue mungkin gak merasa sedih sama sekali, mungkin hanya kasihan. Tapi ini istri gue sendiri. Belahan jiwa gue. Temen gue satu – satunya seumur hidup gue.

Gue ditenangin sama orang tua dan mertua gue. Mungkin karena hanya emosi sesaat, gue jadi cepet tenang. Abis itu, gue keluar dari ruang tunggu ke tempat yang agak sepi, ngerokok dulu. Sumpah stress banget waktu itu. Gue ngerokok ditemenin sama bokap gue. Waktu tengah ngerokok, gue ngeliat dokter Kartipin dateng. Buru – buru gue matiin rokok gue, lalu menyusul sang dokter masuk ke ruang bersalin.

Gue sempet menunggu beberapa saat. Di ruangan yang sama, tapi korden memisahkan gue dan Ria. Gue bisa mendengar Ria melenguh kesakitan. Entah apa yang dilakukan dokter dengan para susternya kepada Ria. Dengan hati yang lebih tabah, gue menunggu dengan tenang. Lamat – lamat gue mendengar salah suster meminta ijin dokter untuk memanggil gue sebagai suaminya Ria. Benar saja, si suster yang minta ijin sama dokter untuk manggil gue lalu memanggil gue untuk menemani sang istri. Menemani Ria untuk menjalani proses terakhir persalinan. Ngeden ngeluarin bayi.

Gue menyingkap korden di ruangan bersalin itu. Lalu melangkah masuk mendekati Ria. Gue melihat Ria dengan posisi ngangkang, sudah siap memulai prosesi ngeden. Gue gak shock karena pernah melihat video proses serupa di internet. Namun tetep, jantung gue berdegup keras.

Cepat gue memegang bahunya Ria. Memberi dukungan moril dan mental supaya Ria lebih semangat. Terdengar suster dan dokter memberikan instruksi – instruksi ke Ria. Instruksi gimana cara ngeden, dan kondisinya saat itu. Kondisi seperti saat jalur lahir yang sudah terbuka lebar, dilanjutkan tampaknya kepala bayi, dan lain – lain.

Gue melihat dengan kepala gue sendiri bagaimana proses bayi gue lahir. Ria mulai ngeden dengan kerasnya. Bokong gak boleh diangkat. Mulutnya tertutup rapat. Kondisi yang sangat sulit, bahkan gue sendiri belum tentu mampu menjalankannya.

Beberapa saat kemudian, dari jalur lahir, mencuatlah kepala sang bayi! Plop!

Dengan Ria masih ngeden, proses dilanjutkan dengan keluarnya bahu kanan sang bayi, lalu tangannya. Beberapa detik kemudian, dilanjutkan dengan keluarnya seluruh tubuh si bayi. Jalur pusar si bayi masih menempel.

Ria sudah lega. Terlihat dari pancaran wajahnya. Kelihatan seperti orang yang abis melepas beban BAB yang sudah gak keluar selama 9 bulan. Lega banget!

Tangan gue masih memegang tangan Ria. Sambil memegang tangan Ria, gue melihat si bayi di bersihkan hidung dan mulutnya dengan cara disedot menggunakan alat khusus. Sementara itu, dokter Kartipin mengurus jalur pusar sang bayi, menjepit di kedua ujung. Ujung di dekat bayi dan ujung di dekat jalur lahir. Lalu menggunting tengah – tengahnya, di antara kedua jepitan.

Melihat semua kondisi bayi dan sang ibu baik dan selamat, gue mencium bibir Ria dengan perasaan lega dan kasih yang meluap – luap. Mengucapkan selamat, juga syukur. Sejenak gue gak peduli dengan anak gue yang baru lahir. Terlupakan karena perasaan cinta gue ke Ria waktu itu lebih besar ketimbang kepada anak gue. Gue juga gak peduli dokter dan para suster yang mungkin melihat perbuatan gue mencium bibir Ria waktu itu. Hehehe.

Dokter kartipin mulai mempersiapkan alat menjahit. Untuk ‘merenovasi’ jalur lahir yang abis dilalui oleh sang jabang bayi. Sementara itu, gue dipanggil suster yang mengurus bayi gue untuk mengecek kondisi, jenis kelamin, dan beberapa hal catat – mencatat yang lainnya.

Welcome to the world, Joyuda Gracius Nathan. Jo, elo lahir di hari minggu, jam 00.09. Zodiak elo cancer, dan shio kelinci.

Anak gue lahir dengan berat 2,850 gram, panjang 47 cm, berjenis kelamin cowok. Semua organ tubuh yang tampak lengkap semua. Tubuh yang sempurna dan juga kuat, dibuktikan dengan suara tangisannya yang mungkin bisa membuat tuli seluruh manusia di Asia Tenggara. Abis tuli lalu serangan jantung. Terus kiamat. Gak ding.

Abis prosesi melahirkan yang melelahkan, gue sempet menginap di rumah sakit, bareng sama Ria, selama 1 malam. Hari Senin sore, gue dan Ria sudah pulang.

Gue juga berterima kasih buat temen – temen dan saudara yang udah dateng untuk menjenguk dan memberi selamat kepada kita berdua. Tanpa dukungan dari kalian semua, gue bukan apa – apa.

Anak gue udah lahiirrr!! Woohooo..

About Dave

Tukang Pijat Keyboard

Posted on July 10, 2011, in Anak Gue and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: